Mencintai Itu Keputusan
Uncategorized June 7th, 2008Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini.
" Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi… 
sebab memberi adalah pekerjaan… 
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… 
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama… 
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh… 
maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, "Aku mencintaimu." Kepada siapa pun! Sebab itu adalah keputusan besar.
Ada taruhan kepribadian disitu."Aku mencintaimu," adalah ungkapan lain dari, "Aku
ingin memberimu sesuatu, aku akan memperhatikan dirimu dan semua
situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi
lebih baik dan bahagia… aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi
dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin… aku akan merawat dengan
segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan
harian yang akan kulakukan padamu…" Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. "Aku mencintaimu"
merupakan deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan,
tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan
kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan
pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali
deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada
cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri
kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan
kepercayaan kepada orang tuanya, atau rakyat kehilangan kepercayaan
kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak
terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas
membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua,
ketiga dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar,
persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena
tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan
hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau
penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta
dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah
tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi sulit.
Disitu konsistensi teruji, disitu juga integritas terbukti. Sebab
mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit,
jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar. Mereka
yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan
jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas
sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain.
Source : Unknown.
Cinta menurut definisi Ibnu Qayyim al-Jauziyah “Tidak ada cinta sebelum ijab kabul diucapkan.”
Cinta antara jiwa dalam hadist Rasulullah, “Jiwa-jiwa
itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui
(mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka
akan berpisah.” (HR. Bukhari)